PEKANBARU-Tata kelola air pada lahan gambut yang dikelola PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), anak perusahaan Asia Pacific Resources International (APRIL), untuk hutan tanaman industri (HTI) lestari diakui kredibilitasnya dalam mengurangi emisi karbon. Bahkan pengembangan HTI di Riau; Pelalawan dan Meranti, justru mampu memperbaiki kualitas lingkungan.Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kehutanan Pemprov Riau, Zulkifli Yusuf. Menurutnya,selama ini ada yang salah dengan persepsi para ahli kehutanan dan lingkungan di luar negeri mengenai sektor kehutanan Indonesia. Bahkan cenderung mengelukan kampanye negatif yang menyatakan Indonesia sebagai negara perusak hutan nomor satu di dunia.
Padahal, menurut dia, pembangunan HTI yang dilakukan Indonesia, termasuk juga pengembangan HTI di Riau yang dilakukan PT RAPP, justru mampu memperbaiki kualitas lingkungan dan tutupan lahan.
"Aktifitas kebun dan hutan tanaman di lahan gambut di Riau ini terkelola baik. Tinjauan lapangan ini akan membuktikan HTI bisa menangkal kampanye isu yang berkembang itu," kata Zulkifli yang menyebut lahan gambut di Riau ada seluas 6,4 juta hektar.
Sedang Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Kusnan Rahmin, mengungkapkan kepada Halloriau.com, PT RAPP dengan teknologi tata kelola air (Eco-hydro) telah mengelola lahan gambut selama hampir 20 tahun. ''Hasilnya, terbukti lahan gambut bisa dikelola dengan baik,'' imbuhnya di Jakarta pada Desember 2012.
''Manfaat dari sistem Eco-hydro ini bukan hanya bagi areal Tanaman Pokok, namun juga bermanfaat bagi areal Kawasan Lindung yang terletak di dalam areal konsesi RAPP, bahkan secara luas akan memberikan manfaat perlindungan aspek Biodiversity (keanekaragaman hayati). Pada akhirnya, pengelolaan gambut dengan cara ini akan memberi manfaat berupa minimalisasi degradasi lahan gambut, dan pengurangan emisi karbon di areal operasional secara keseluruhan,'' papar Kusnan lagi.
Sistem pengelolaan yang diterapkan PT RAPP ini telah menuai pujian dari Profesor Ryusuke Hatano, ilmuwan dari Universitas Hokaido. Menurutnya, teknologi Eco-hydro di lahan gambut yang dimiliki PT RAPP untuk mengembangkan HTI Akasia sangat mengesankan sekali.
"Kita sangat memuji para tenaga ahli Indonesia khususnya RAPP dalam pengelolaan HTI di kawasan gambut. Mereka adalah good educated people. Baru kali ini saya melihat area tanaman industri yang terjaga dengan tidak merusak hutan termasuk di dalamnya komitmen perusahaan dalam menjaga dan mengelola hutan alam," ujarnya.
Sementara itu Dr Suwardi dari Pusat Studi Reklamasi Tambang IPB mengatakan, pihaknya banyak belajar dari para tenaga ahli RAPP. Salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik adalah berkaitan dengan water management atau Eco-hydro, termasuk kegiatan implem
Pakar sumberdaya lahan Universitas Lampung Prof Muhajir Utomo menambahkan, teknologi Eco-hydro jadi best practices dalam pengelolaan gambut. Seharusnya, Eco-hydro bisa diterapkan di lahan gambut yang belum rusak untuk kegiatan kehutanan atau non kehutanan.
"Kami sudah melihat hasilnya dan menilai bahwa teknologi pertama di Indonesia ini mampu berkontribusi pada kelestarian ekosistem gambut di Semenanjung Kampar serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya."
Selain mengaplikasikan konsep Eco-hydro, PT RAPP juga menerapkan Ring Concept dalam pengelolaan HTI di Kawasan Semenanjung Kampar, Kecamatan Telukmeranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Konsep ini adalah cara terbaik dalam pengelolaan HTI guna mencegah perambahan liar di daerah konservasi dimana kubah gambut berada.
Dengan Ring Concept yang dikembangkan PT RAPP dirancang dengan teknologi tinggi sebagai tiang penyanggah yang melindungi kawasan hutan ini, yakni hutan rawa gambut yang sangat dalam di Semenanjung Kampar, sehingga patut didukung untuk diterapkan guna menyelamatkan kawasan tersebut dari ancaman degradasi yang lebih parah. (Yus)
Tidak ada komentar: